JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Tim kolaborasi film Pesta Babi menyatakan menghormati keputusan tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan asal Merauke, Yasinta Moiwend atau Mama Sinta, yang melaporkan pihak terkait film tersebut ke Polda Metro Jaya, Sabtu, 30 Mei 2026.
Pernyataan itu disampaikan melalui keterangan tertulis yang diunggah akun media sosial Watchdoc Documentary setelah laporan polisi yang diajukan Mama Sinta menjadi perhatian publik.
“Mama Yasinta Moiwend adalah seorang tokoh perempuan adat Malind yang sudah lama berjuang untuk diri dan komunitasnya, jauh sebelum proses pembuatan film dokumenter ini berlangsung. Kami tim kolaborasi film Pesta Babi menghormati apa pun sikap Mama Yasinta saat ini,” tulis tim kolaborasi.
Mereka juga meminta masyarakat tidak menyudutkan maupun menghakimi Mama Sinta terkait perubahan sikap yang ditunjukkannya saat ini.
“Meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi beliau, sembari kami masih berusaha memahami apa yang terjadi dengan perubahan pilihan sikap ini,” lanjut pernyataan tersebut.
Tim kolaborasi film Pesta Babi terdiri atas Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, dan Watchdoc.
Menurut mereka, hingga kini belum berhasil berkomunikasi atau bertemu langsung dengan Mama Sinta sejak video pernyataannya viral dan laporan polisi dibuat.
“Kami terus berusaha membangun komunikasi dengan Mama Yasinta dan berkoordinasi dengan keluarganya. Kami mengharapkan dukungan perhatian publik terhadap persoalan ini, sembari kita melanjutkan solidaritas untuk upaya penyelesaian persoalan yang begitu besar di Tanah Papua,” ujarnya.
Sebelumnya, laporan Mama Sinta telah teregister dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 29 Mei 2026.
Penasihat hukum Mama Sinta, Hamonangan Daulay, mengatakan laporan tersebut ditujukan kepada Ketua LBH Merauke berinisial JTW terkait dugaan pelanggaran Pasal 65 juncto Pasal 67 Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.
“Ini yang kita laporkan ini adalah untuk perorangan. Perorangan, ada Ketua LBH Merauke. Ketua LBH Merauke, ya. Jhon, ini inisialnya adalah JTW,” kata Hamonangan Daulay.
Sementara itu, Mama Sinta mengaku kecewa karena wajahnya ditampilkan dalam film Pesta Babi tanpa izin dan tanpa adanya komunikasi sebelumnya dari pihak pembuat film.
“Mereka putar film Pesta Babi itu di mana-mana, saya sakit hati, saya kecewa sekali. Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan. Itu penjahat itu mereka,” ujar Mama Sinta.
Ia juga mengaku baru mengetahui dirinya muncul dalam film tersebut saat menghadiri pemutaran film di Jayapura pada 8 April 2026 setelah diajak oleh seseorang bernama Tigor.
Menurut Mama Sinta, dirinya tidak pernah diberi tahu atau dimintai persetujuan untuk dilibatkan dalam film dokumenter tersebut sehingga merasa terkejut saat melihat wajahnya ditampilkan di layar. HUM/GIT

