SURABAYA, Memoindonesia.co.id – Masalah deteni dan pengungsi di Jawa Timur sudah terlalu besar untuk ditangani sendirian. Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Surabaya angkat suara keras: semua pihak harus turun tangan, bukan sekadar menonton.
Seruan itu mengemuka dalam Forum Komunikasi Penanganan Deteni dan Pengungsi yang digelar di Hotel Harris, Selasa (10/2/2026). Aparat kepolisian, TNI, BIN, pemerintah daerah hingga lembaga terkait duduk satu meja bersama jajaran imigrasi. Intinya satu: tanggung jawab tak boleh dibebankan ke satu institusi saja.
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Jawa Timur, Novianto Sulastono, menegaskan deteni adalah warga negara asing pelanggar aturan yang ditempatkan sementara sebelum dipulangkan. Prosesnya panjang, rumit, dan mustahil berjalan efektif tanpa dukungan lintas sektor.
“Penanganan deteni tidak bisa sendiri-sendiri. Ini kerja bersama. Semua harus ambil peran,” tegas Toton, sapaan akrab Novianto.
Angka yang dipaparkan menunjukkan tekanan itu nyata. Saat ini terdapat 33 deteni dan sekitar 345 pengungsi berada di wilayah kerja Rudenim Surabaya.
Mayoritas berasal dari negara konflik seperti Afghanistan dan Myanmar. Mereka menunggu kejelasan, sementara kapasitas pengawasan dan pembiayaan terus diuji.
Kepala Rudenim Surabaya, Rubiyanto Sugesi, tak menampik beratnya situasi di lapangan. Menurutnya, forum ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan upaya merajut jalur cepat pertukaran informasi agar respons antarinstansi tidak lagi lambat atau tumpang tindih.
“Kalau komunikasinya kuat, pengawasan jauh lebih efektif. Tapi tetap harus humanis, transparan, dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Rubi.
Persoalan krusial lainnya adalah kebuntuan pemulangan. Banyak pengungsi belum dapat diberangkatkan karena terbentur pendanaan serta kepastian dukungan dari negara donor. Akibatnya, masa tunggu kian panjang, sementara kebutuhan hidup dan pengawasan terus berjalan setiap hari.
Tanpa keterlibatan aktif semua pihak, angka ratusan itu hanya akan menjadi antrean tanpa ujung.
Melalui forum ini, Ditjen Imigrasi ingin memastikan tidak ada lagi sikap saling menunggu. Jawa Timur terbuka pada kolaborasi, tetapi juga menuntut komitmen nyata. Pesannya jelas: jangan biarkan Rudenim bekerja sendirian menghadapi persoalan sebesar ini. HUM/BAD


