JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Pasangan suami istri pemilik Wedding Organizer (WO) Marwah berinisial RM dan ER ditangkap polisi setelah diduga menipu puluhan calon pengantin dengan total kerugian sementara mencapai Rp 2,6 miliar, Senin, 1 Juni 2026.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur AKBP Bayu Kurniawan mengungkapkan, berdasarkan hasil penyelidikan, tersangka ER diketahui merupakan residivis dalam kasus penipuan dengan modus serupa yang pernah terjadi di wilayah Jawa Barat.
“Jadi dari hasil pemeriksaan kami bahwa diketahui terhadap tersangka atas nama AR itu adalah residivis terhadap tindak pidana yang serupa di wilayah Jawa Barat,” kata AKBP Bayu Kurniawan.
Status residivis tersebut terungkap setelah penyidik melakukan pemeriksaan mendalam terhadap kedua tersangka yang merupakan pemilik WO Marwah.
RM dan ER ditangkap di sebuah rumah kontrakan di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Jumat, 29 Mei 2026.
Polisi mengungkapkan, pasangan tersebut kerap berpindah-pindah lokasi setelah kasus dugaan penipuan yang dilakukan WO Marwah ramai diperbincangkan di media sosial dan menjadi sorotan publik.
Menurut Bayu, kedua tersangka diduga berusaha melarikan diri dan bersembunyi untuk menghindari proses hukum.
“Memang setelah ramai pemberitaan kemarin di media sosial, kedua tersangka ini berusaha untuk melarikan diri ke suatu tempat dan bersembunyi. Makanya, kita melakukan pencarian, dan Alhamdulillah kami bisa mengidentifikasi keberadaan pelaku dan melakukan penangkapan di Cililin,” ujarnya.
Dari hasil pendataan sementara, polisi mencatat sedikitnya 58 klien WO Marwah menjadi korban dugaan penipuan tersebut.
Para korban diketahui telah menyetorkan sejumlah uang untuk berbagai paket pernikahan yang ditawarkan oleh WO Marwah. Namun, layanan yang dijanjikan tidak terealisasi sebagaimana mestinya sehingga menyebabkan kerugian besar bagi para calon pengantin.
Total kerugian yang dialami para korban sementara ditaksir mencapai Rp 2,6 miliar.
“Kami terus selidiki, tidak menutup kemungkinan nanti ada penambahan,” ucap Bayu.
Polisi juga memastikan hingga saat ini tersangka yang terlibat dalam perkara tersebut masih terbatas pada pasangan suami istri tersebut. Penyidik belum menemukan keterlibatan pihak lain dalam pengelolaan maupun dugaan tindak pidana yang dilakukan WO Marwah.
Meski demikian, penyidik masih membuka ruang bagi korban lain yang belum melapor karena jumlah korban dan nilai kerugian diduga masih dapat bertambah seiring perkembangan penyelidikan.
Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat Pasal 492 KUHP tentang perbuatan curang dan Pasal 486 KUHP tentang penggelapan dengan ancaman hukuman penjara maksimal empat tahun. HUM/GIT

