JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Kementerian Kesehatan RI mencatat 23 kasus hantavirus dengan tiga kematian di sembilan provinsi Indonesia dalam tiga tahun terakhir, Kamis 7 Mei 2026.
Seluruh kasus hantavirus di Indonesia terkonfirmasi sebagai jenis Seoul virus, bukan Andes virus seperti yang ditemukan pada wabah di kapal pesiar mewah MV Hondius.
Virus tersebut umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut melalui gigitan, saliva, urine, feses, maupun debu yang terkontaminasi.
Belakangan, hantavirus menjadi perhatian dunia setelah menginfeksi sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius hingga menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Korban meninggal dilaporkan merupakan pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga Jerman.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut lima dari delapan suspek yang terkait kapal tersebut telah terkonfirmasi positif hantavirus.
Menurut data Kemenkes RI, kasus hantavirus jenis Seoul virus paling banyak ditemukan pada 2025 dengan 17 kasus.
Sementara itu, pada 2024 hanya ditemukan satu kasus dan hingga Mei 2026 terdapat tambahan lima kasus baru.
Sebaran kasus hantavirus di Indonesia meliputi Sumatera Barat satu kasus, Banten satu kasus, DKI Jakarta enam kasus, Jawa Barat lima kasus, Jawa Timur satu kasus, DIY enam kasus, NTT satu kasus, Kalimantan Barat satu kasus, dan Sulawesi Utara satu kasus.
“23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman.
Menurutnya, risiko penularan Andes hantavirus antarmanusia di Indonesia masih tergolong rendah karena kasus tersebut umumnya terjadi di Amerika Selatan.
“Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus Andes yang antarmanusia tergolong rendah, jarang terjadi, terbatas umumnya di Amerika Selatan,” tuturnya.
Ia menambahkan, tingginya angka kematian juga dipengaruhi kondisi penyerta seperti kanker hati dan kegagalan multiorgan.
Kelompok yang berisiko tertular antara lain petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pembersih selokan, hingga pekerja laboratorium yang sering kontak langsung dengan tikus.
Penularan dapat terjadi melalui gigitan, ekskresi dan sekresi, saliva, urine, feses, hingga aerosol dari debu yang terkontaminasi.
Meski demikian, Kemenkes menegaskan hingga kini belum ditemukan kasus hantavirus yang menular antarmanusia di Indonesia. HUM/GIT

