MemoIndonesia.co.id
  • Beranda
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • Seni Budaya
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Indeks
MemoIndonesia.co.id
  • Beranda
  • Nasional
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Ekbis
  • Hukum
  • Gaya Hidup
  • Foto
  • Indeks
Search
  • Kategori Berita
    • Nasional
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum
    • Peristiwa
    • Pendidikan
    • Ekbis
    • Seni Budaya
    • Olahraga
    • Religi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
  • Link Terkait
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Disclaimer
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2023 - MemoIndonesia.co.id

Eks Ketua PN Surabaya Klaim Pesan ‘Jangan Lupakan Aku’ Hanya Pamitan, Saksi Tetap Bersikukuh Permintaan Jatah!

Publisher: Redaktur 14 Juni 2025 5 Min Read
Share
Eks Ketua PN Surabaya Rudi Suparmono.
Ad imageAd image

JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Perkara dugaan suap di balik vonis bebas Gregorius Ronald Tannur terus menyajikan fakta menarik di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Mantan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rudi Suparmono, kini memberikan versinya terkait pesan misterius “jangan lupakan aku” yang ia sampaikan kepada hakim ketua pembebas Ronald, Erintuah Damanik. Rudi bersikukuh, pesan itu hanyalah pamitan sebelum pindah tugas ke PN Jakarta Pusat, bukan isyarat meminta uang.

Pernyataan Rudi ini disampaikan sebagai tanggapan atas kesaksian Erintuah Damanik pada Jumat 13 Juni 2025. Sebelumnya, Erintuah mengaku memaknai pesan tersebut sebagai permintaan jatah uang terkait vonis bebas Ronald.

Rudi menjelaskan, penunjukan majelis hakim untuk perkara Ronald—yang diketuai Erintuah Damanik dengan anggota Mangapul dan Heru Hanindyo—merupakan hasil diskusi dengan Wakil Ketua PN Surabaya.

“Itu didiskusikan lagi dengan Pak Wakil, jadi bukan saya yang menunjuk karena kan yang menetapkan Pak Wakil,” kata Rudi.

Kemudian, ia membantah keras tudingan bahwa pesan “jangan lupakan saya” adalah kode suap.

“Yang kedua terkait dengan, ‘Jangan lupakan saya’. Penting bagi saya Yang Mulia, untuk memastikan bahwa saya tidak bermakna apa pun menyampaikan itu selain untuk mengingatkan beliau bahwa saya akan dilantik di PN Jakarta Pusat, diskusinya tentang itu. Tapi kalau beliau menafsirkan kemudian sebagai mengingat untuk sesuatu itu bukan pemahaman saya,” ujar Rudi.

Baca Juga:  Pengacara Ronald Tannur Telepon Staf PN Surabaya: Mbak, Saya Mau Pilih Hakim

“Jadi dua itu aja ya?” tanya ketua majelis hakim Iwan Irawan. “Iya, saya nggak ada maksud untuk meminta sesuatu terkait itu,” jawab Rudi tegas.

Meski Rudi membantah, Erintuah Damanik tetap pada keterangannya. Erintuah sebelumnya mengungkapkan bahwa Rudi menyampaikan pesan “jangan lupakan aku” sebanyak tiga kali. Menurutnya, ia memaknai pesan itu sebagai permintaan jatah uang terkait vonis bebas Ronald.

Bahkan, Erintuah mengaku telah menyisihkan SGD 20 ribu (sekitar Rp 240 juta) untuk Rudi sebagai respons atas pesan tersebut, ditambah SGD 10 ribu untuk panitera pengganti.

“Pada tanggal 10, saya ketemu lagi dengan hakim anggota, saya bagikan uangnya. Saya serahkan uangnya. Saya bagi semuanya di situ, saya, Mangapul, dan Heru. Pada saat pembagian saya bilang, Pak Ketua ada tiga kali ngomong, ‘jangan lupakan saya, tolong disisihkan’ akhirnya kita sisihkanlah uang di situ, SGD 20 ribu untuk Pak Ketua, SGD 10 ribu untuk PP,” jelas Erintuah.

Baca Juga:  Hakim Heru Hanindyo Minta Dibebaskan, Klaim Namanya Dijual dalam Kasus Suap Vonis Bebas Ronald Tannur

Namun, uang itu belum sempat diserahkan kepada Rudi karena perkara Ronald menjadi viral.

“Tapi, setelah putusan, perkara ini booming, Pak. Jadi uang itu masih saya pegang, sampai pada saat itu. Kemudian, uang itu sudah saya serahkan, sudah saya kembalikan kepada penyidik. Semua yang kita terima sudah saya serahkan kepada penyidik,” imbuh Erintuah.

Dalam kasus ini, Rudi didakwa menerima gratifikasi senilai SGD 43 ribu dari pengacara Ronald, Lisa Rachmat, untuk memuluskan vonis bebas Ronald Tannur.

“Sebagai Ketua Pengadilan Negeri Surabaya menerima hadiah atau janji yaitu menerima uang tunai sebesar SGD 43 ribu dari Lisa Rachmat selaku advokat atau penasihat hukum dari Gregorius Ronald Tannur,” kata jaksa saat membacakan surat dakwaan.

Baca Juga:  Tiga Terdakwa Kasus Kredit Sritex Divonis Bebas, Kejagung Hormati Putusan Hakim

Jaksa meyakini uang tersebut diberikan agar Rudi menunjuk majelis hakim yang sesuai dengan keinginan Lisa, yakni Erintuah Damanik, Mangapul, dan Heru Hanindyo.

“Padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yaitu supaya Terdakwa Rudi Suparmono selaku Ketua Pengadilan Negeri Surabaya menunjuk majelis hakim dalam perkara pidana Gregorius Ronald Tannur yang sesuai dengan keinginan dari Lisa Rachmat,” tegas jaksa.

Tidak hanya itu, Rudi juga didakwa menerima suap lain dengan total konversi mencapai Rp 21.963.626.339,8 (Rp 21 miliar lebih). Uang tunai dalam berbagai mata uang—Rp 1,7 miliar, USD 383 ribu, dan SGD 1.099.581—ditemukan penyidik saat menggeledah rumah Rudi. Jaksa menduga uang tersebut adalah gratifikasi yang berhubungan dengan jabatan Rudi dan tidak pernah dilaporkan ke KPK.

Rudi Suparmono didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 5 ayat 2 atau Pasal 11 dan Pasal 12B juncto Pasal 18 UU Tipikor. HUM/GIT

TAGGED: Dini Sera Afriyanti, eks Ketua PN Surabaya, Erintuah Damanik, Gregorius Ronald Tannur, Heru Hanindyo, Lisa Rachmat, Mangapul, Meirizka Widjaja, Ronald Tannur, Rudi Suparmono, vonis bebas
Share this Article
Facebook Twitter Pinterest Whatsapp Whatsapp Print
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Wink0
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ad imageAd image

BERITA TERKINI

KPK Usut Dugaan Jual Beli Jabatan di ATR/BPN, Kasus Suap Summarecon Makin Melebar
20 September 2026
Kejagung Limpahkan Bos Tambang Aseng ke Kejari Jakpus, Kasus Korupsi Rp 4,09 Triliun
19 September 2026
Direktur Jenderal Kementerian Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Lampri.
KPK Bongkar Rumah Dirjen ATR/BPN Lampri, Petunjuk Aliran Uang Kasus HGB Ditemukan
19 September 2026
KPK Dalami Pemberian Dua Mobil untuk Anggota DPRD Kota Bengkulu
19 September 2026
KPK Soroti Pengadaan Barang dan Mutasi Jabatan sebagai Celah Rawan Korupsi di Daerah
19 September 2026
Ad imageAd image

NASIONAL

KPK Usut Dugaan Jual Beli Jabatan di ATR/BPN, Kasus Suap Summarecon Makin Melebar
20 September 2026
Kejagung Limpahkan Bos Tambang Aseng ke Kejari Jakpus, Kasus Korupsi Rp 4,09 Triliun
19 September 2026
Direktur Jenderal Kementerian Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Lampri.
KPK Bongkar Rumah Dirjen ATR/BPN Lampri, Petunjuk Aliran Uang Kasus HGB Ditemukan
19 September 2026
KPK Dalami Pemberian Dua Mobil untuk Anggota DPRD Kota Bengkulu
19 September 2026
Ad imageAd image

Baca Berita Lainnya:

Korupsi

KPK Usut Dugaan Jual Beli Jabatan di ATR/BPN, Kasus Suap Summarecon Makin Melebar

Kejaksaan

Kejagung Limpahkan Bos Tambang Aseng ke Kejari Jakpus, Kasus Korupsi Rp 4,09 Triliun

Direktur Jenderal Kementerian Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Lampri.
Pertanahan

KPK Bongkar Rumah Dirjen ATR/BPN Lampri, Petunjuk Aliran Uang Kasus HGB Ditemukan

Korupsi

KPK Dalami Pemberian Dua Mobil untuk Anggota DPRD Kota Bengkulu

MemoIndonesia.co.id

Memo Indonesia adalah media online yang menyajikan beragam informasi dari seluruh sudut nusantara.

Quick Links
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
About US
  • Kontak
  • Tentang Kami
  • Karir
  • Redaksi

Copyright 2023 – MemoIndonesia.co.id

Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?