SURABAYA, Memoindonesia.co.id – Menghormati pahlawan tidak cukup dengan upacara setiap 10 November. Perjuangan mereka harus tercermin dalam sikap pemimpin yang mengutamakan persatuan, mengayomi rakyat, dan menjauhkan kepentingan pribadi dari kekuasaan.
Pesan kritis tersebut mengemuka dalam kegiatan Pengajian Perang yang digelar Surabaya Membara di kompleks makam Pahlawan Nasional Wage Rudolf (WR) Soepratman, menjelang peringatan Hari Pahlawan, Minggu, 8 Nopember 2026.
Kegiatan ini bukan sekadar pengajian biasa. Di tempat peristirahatan salah satu tokoh besar bangsa tersebut, masyarakat diajak kembali memahami mahalnya harga kemerdekaan sekaligus mengingatkan generasi sekarang agar tidak kehilangan arah dalam memaknai perjuangan.

Suasana semakin bermakna dengan kehadiran Mat Ahmad, pejuang kemerdekaan asal Surabaya yang kini berusia 104 tahun. Sebagai saksi sejarah, ia membagikan pengalaman perjuangan merebut kemerdekaan yang tidak bisa disamakan dengan kehidupan bangsa saat ini.
Kehadiran Mat Ahmad menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini dibayar dengan pengorbanan besar. Karena itu, generasi penerus, khususnya mereka yang memegang kekuasaan, semestinya tidak melupakan nilai-nilai perjuangan tersebut.
Tokoh masyarakat sekaligus spiritual, Taufik Hidayat, menegaskan bahwa salah satu warisan terpenting para pejuang adalah persatuan. Ia mengingatkan, pemimpin seharusnya menjadi contoh dalam menjaga kerukunan, bukan sekadar pandai berbicara tentang nasionalisme.
“Pesan Pak Mat Ahmad sangat jelas, menjaga kerukunan. Pemimpin harus mampu menciptakan persatuan. Kalau pemimpin tidak bisa memberikan teladan dalam menjaga kerukunan, lalu apa yang mau dicontoh masyarakat?” kata Taufik Monyong, penggagas Pengajian Perang.
Menurutnya, pesan tersebut bukan sekadar nasihat moral, melainkan amanat konstitusional yang sejalan dengan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, serta nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
Taufik juga melontarkan kritik terhadap lunturnya makna kepahlawanan ketika perjuangan justru dikaitkan dengan kepentingan jabatan dan keuntungan pribadi.
Ia menegaskan, para pahlawan dahulu tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan demi kursi kekuasaan, proyek, pekerjaan, ataupun kekayaan.
“Pahlawan itu tidak mencari jabatan, posisi, uang, atau proyek. Mereka berjuang tanpa pamrih. Mereka mempertaruhkan nyawa demi bangsa. Jangan sampai sekarang kita justru kehilangan nilai perjuangan karena terlalu sibuk mengejar kepentingan sendiri,” tegasnya.
Lebih jauh, Taufik meminta pemerintah tidak menjadikan peringatan Hari Pahlawan sebatas agenda tahunan yang ramai dengan seremoni, tetapi miskin pendidikan sejarah dan keteladanan.
Ia mendorong pemerintah menghidupkan pengajian kebangsaan secara rutin di kompleks makam WR Soepratman. Minimal sebulan sekali, generasi muda diajak mengenal sejarah Perang 10 November, para pejuang, serta nilai pengorbanan yang melahirkan kemerdekaan.
“Anak-anak muda harus sering dibawa ke sini. Minimal sebulan sekali pemerintah mengadakan pengajian kebangsaan. Mereka harus dikenalkan siapa pahlawannya, bagaimana perjuangannya, dan apa semangat yang harus diwarisi,” ujarnya.
Menurutnya, mengenalkan sejarah secara langsung akan jauh lebih bermakna daripada sekadar meminta generasi muda menghafal nama pahlawan di ruang kelas.
Kegiatan Pengajian Perang ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tantangan bangsa saat ini bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah, melainkan melawan ego, perpecahan, keserakahan, dan hilangnya kepedulian terhadap sesama.
Sebab, kemerdekaan bisa diwariskan, tetapi semangat kepahlawanan tidak akan hidup jika pemimpin dan generasinya hanya pandai mengenang, tanpa mau meneladani. HUM/BAD

