SLEMAN, Memoindonesia.co.id – Sindikat penipuan daring atau love scamming yang beroperasi di Jalan Gito Gati, Sleman, menggunakan aplikasi kencan untuk merayu korban hingga menjual konten pornografi dan meraup keuntungan Rp 10 miliar per bulan, Rabu 7 Januari 2026.
Pengungkapan kasus ini bermula dari patroli siber Polresta Jogja yang menemukan iklan lowongan kerja mencurigakan, hingga dilakukan penggerebekan di sebuah ruko dua lantai pada Senin 5 Januari 2026.
“Diamankan barang bukti berupa 30 unit handphone, 50 laptop, CCTV, dan seperangkat wifi yang digunakan sebagai sarana tindak pidana love scamming,” kata Kapolresta Yogyakarta Kombespol Eva Guna Pandia saat jumpa pers, Rabu 7 Januari 2026.
Penelusuran kepolisian mendapati perusahaan tersebut bernama PT Altair Trans Service yang menawarkan lowongan sebagai English Chat App Admin tanpa kejelasan tugas, syarat pendidikan, dan batas usia.
Saat penggerebekan, polisi mengamankan 64 orang karyawan. Dari hasil penyelidikan, enam petinggi perusahaan ditetapkan sebagai tersangka.
Keenam tersangka yakni R (35) selaku CEO, H (33) sebagai HRD, P (28) dan J (28) sebagai project manager, serta V (28) dan G (22) sebagai tim leader.
Mereka dijerat Pasal 407 atau Pasal 492 KUHP serta pasal terkait pornografi dalam UU ITE dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun penjara.
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian menjelaskan, para pelaku menjalankan modus love scamming dengan memanfaatkan aplikasi kencan untuk menjalin komunikasi dengan korban dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia.
Para karyawan menggunakan aplikasi bernama WOW yang memiliki server di China untuk mengarahkan percakapan ke konten pornografi berbayar.
“Setelah masuk ke room chat, agen tinggal melayani interaksi hingga mengirim konten porno yang sudah disediakan, namun tidak bisa dibuka sebelum membeli koin,” jelas Riski.
Ia menambahkan, agen mengaku sebagai sosok dalam konten pornografi tersebut menggunakan profil palsu.
“Di situlah scam-nya, mereka menggunakan fake profile,” ungkapnya.
Riski memaparkan, setiap 16 koin dalam aplikasi setara dengan 5 dolar Amerika Serikat. Satu shift ditargetkan mengumpulkan minimal dua juta koin per bulan.
“Jika dikalkulasikan, satu shift bisa menghasilkan lebih dari Rp 10 miliar per bulan, sementara operasional dibagi dalam tiga shift,” katanya.
Hasil penyelidikan juga mengungkap PT Altair Trans Service merupakan perusahaan outsourcing yang menjadi perpanjangan tangan operator aplikasi kencan asal China.
Selain di Sleman, perusahaan tersebut memiliki cabang di Lampung dan saat ini polisi berkoordinasi dengan Polda Lampung untuk pengembangan kasus.
Polisi telah mengantongi identitas warga negara China berinisial ZC yang bekerja sama dengan R selaku CEO dalam membangun jaringan scamming tersebut di Indonesia.
Riski menyebut perusahaan ini mempekerjakan sekitar 160 hingga 200 karyawan yang dibagi dalam tiga shift.
“Gaji pokok berkisar Rp 2,4 juta sampai Rp 3,5 juta, ditambah bonus berdasarkan performa hingga Rp 5 juta per bulan,” jelasnya. HUM/GIT


