MAGETAN, Memoindonesia.co.id – Permintaan sederhana Serda Ahmad Muzammul Farisa untuk berfoto bersama sang ayah di Jakarta, Selasa 8 September 2026, kini menjadi kenangan terakhir sebelum prajurit TNI AU itu meninggal dunia.
Toni Eko Prasetyo, ayah Serda Ahmad, tak pernah menyangka pertemuan singkat tersebut menjadi perjumpaan terakhir dengan putra sulungnya.
Saat itu, Toni sedang menjalankan tugas dinas luar kota bersama Bupati Madiun H Hari Wuryanto di Jakarta. Mengetahui sang ayah berada di ibu kota, Serda Ahmad kemudian ditemui Toni di sekitar Halim.
Ada satu hal yang terus membekas dalam ingatan Toni. Putranya tiba-tiba meminta untuk berfoto bersama.
“Saat di Jakarta kemarin minta foto dan itu sangat jarang dilakukan oleh anak saya kalau ndak saya yang minta foto. Seperti pengen banget foto,” kata Toni, Jumat 11 September 2026.
Toni mengaku sempat menelepon Serda Ahmad untuk memberitahukan keberadaannya di Jakarta. Karena lokasi pertemuan tidak jauh dari Halim, Toni kemudian mendatangi putranya.
“Saya telepon, le (nak) bapak di Jakarta ini. Tak parani ya le wong dekat dari Halim (Saya kunjungi ya nak kan dekat Halim). Saya temui dan minta foto terakhir itu,” ungkap Toni.
Saat itu, tidak sedikit pun terlintas di benak Toni bahwa foto tersebut akan menjadi kenangan terakhir bersama putranya.
Terlebih, Serda Ahmad dikenal rutin menghubungi keluarga setiap hari. Ia biasanya menelepon Toni dan ibunya secara bergantian meski hanya sebentar.
Namun, pada hari terjadinya insiden yang kemudian merenggut nyawanya, Serda Ahmad tidak menghubungi keluarga sama sekali.
“Setiap hari biasanya telepon dengan saya dengan ibunya gantian. Kemarin tidak menghubungi sama sekali saya sempat kantor juga,” papar Toni.
Toni yang menjabat sebagai Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Madiun itu mengaku tidak menyangka pertemuan singkat di Jakarta menjadi kali terakhir dirinya melihat putra sulungnya.
“Tidak mengira pertemuan terakhir,” ujar Toni sambil menghela napas dan menahan air mata.
Serda Ahmad Muzammul Farisa diduga meninggal secara tidak wajar setelah disebut menjadi korban penganiayaan seniornya. Kasus tersebut kini tengah dalam penyelidikan Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau).
Keluarga Serda Ahmad berharap proses hukum berjalan secara transparan dan pelaku mendapat hukuman yang setimpal.
Toni juga meminta Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU), hingga jajaran terkait memberikan perhatian terhadap kasus yang menimpa putranya.
“Mohon kepada Pak Presiden (Prabowo) dan Pak KASAU, juga Kadis Psikologi yang jadi induk kantor anak saya mohon dengan hormat agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya,” tandasnya. HUM/GIT


