JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Kementerian Kesehatan RI mencatat 23 pasien hantavirus jenis Seoul virus di Indonesia mengalami gejala Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS), Jumat 8 Mei 2026.
Gejala umumnya muncul satu hingga dua minggu setelah terpapar virus yang ditularkan melalui tikus dan celurut tersebut.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman mengatakan gejala yang dialami pasien relatif lebih ringan dibandingkan Andes virus yang sempat mewabah di kapal pesiar MV Hondius.
“Mereka gejalanya demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise atau lemas, dan jaundice yakni tubuh menguning,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, Andes virus dapat memicu gejala sesak napas dengan masa inkubasi hingga 17 hari dan tingkat kematian lebih tinggi.
Meski demikian, Aji memastikan 20 pasien hantavirus di Indonesia telah sembuh dan kembali beraktivitas normal.
Sementara itu, tiga pasien lainnya meninggal dunia dengan riwayat penyakit penyerta seperti kanker hati dan kegagalan multiorgan.
Aji mengimbau masyarakat mewaspadai lokasi yang berisiko tinggi menjadi tempat penularan hantavirus.
Beberapa lokasi tersebut di antaranya gedung lama, area terbengkalai, ruang bawah tanah, hingga wilayah dengan populasi tikus yang tinggi.
Menurutnya, penularan dapat terjadi melalui kontak dengan tikus dan celurut yang terinfeksi, baik melalui urine, saliva, feses, gigitan, maupun debu yang terkontaminasi virus.
Ia menambahkan, penularan antarmanusia hanya ditemukan pada hantavirus tipe Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat.
Tingkat kematian akibat tipe HPS disebut dapat mencapai 60 persen dan sejauh ini penyebarannya masih terbatas di wilayah tertentu seperti Amerika Selatan. HUM/GIT

