JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Usulan pemindahan posisi gerbong khusus wanita di kereta rel listrik (KRL) memicu pro dan kontra setelah kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur, Jumat 1 Mei 2026.
Gagasan tersebut muncul usai insiden tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL pada Senin 27 April 2026 yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengusulkan agar gerbong khusus wanita tidak lagi ditempatkan di ujung rangkaian, melainkan dipindah ke bagian tengah.
“Kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah,” ujarnya usai menjenguk korban di RSUD Bekasi, Selasa 28 April 2026.
Ia bahkan mengusulkan agar gerbong di bagian depan dan belakang diisi oleh penumpang laki-laki.
“Jadi yang laki-laki di ujung, depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” tambahnya.
Usulan tersebut langsung menjadi perbincangan luas, baik di media sosial maupun kalangan legislatif dan pemangku kebijakan.
Kecelakaan di Bekasi Timur sendiri menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan sekitar 90 lainnya mengalami luka-luka. Seluruh korban meninggal merupakan perempuan karena gerbong yang tertabrak berada di bagian paling belakang dan merupakan gerbong khusus wanita.
Menanggapi usulan tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menegaskan bahwa keselamatan penumpang tidak dibedakan berdasarkan gender.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan keselamatan merupakan prioritas utama bagi seluruh pengguna jasa kereta.
“Kami tidak ada toleransi untuk menurunkan tingkat keselamatan pelanggan, baik laki-laki maupun perempuan,” ujarnya dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur, Rabu 29 April 2026.
Ia menjelaskan, penempatan gerbong khusus wanita di bagian depan dan belakang selama ini bertujuan memberikan kenyamanan serta kemudahan akses.
Selain itu, posisi tersebut dinilai lebih dekat dengan petugas keamanan sehingga dapat meminimalisir potensi pelecehan.
“Pemisahan ini untuk mencegah harassment, memberi kemudahan akses, dan meningkatkan keamanan karena dekat dengan petugas,” jelasnya.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menilai fokus utama seharusnya bukan pada posisi gerbong.
Menurutnya, keselamatan transportasi secara keseluruhan menjadi hal yang lebih penting untuk dibenahi.
“Laki-laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah akan memprioritaskan perbaikan sistem transportasi, termasuk keselamatan perlintasan kereta.
“Kita fokus pada sistem transportasi yang aman, nyaman, dan benar-benar mengutamakan keselamatan,” tegasnya.
Menurutnya, tingginya korban perempuan dalam kecelakaan tersebut lebih disebabkan faktor posisi gerbong yang kebetulan berada di titik benturan.
Peristiwa ini menjadi sorotan serius dan memicu evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian nasional, termasuk efektivitas kebijakan gerbong khusus wanita. HUM/GIT

