MEDAN, Memoindonesia.co.id – Fenomena matahari tampak merah pekat menghebohkan warga Kota Medan, kondisi tersebut terjadi akibat partikel di atmosfer yang memengaruhi perambatan cahaya matahari, Senin 7 September 2026.
BMKG Wilayah I menjelaskan fenomena matahari merah tidak perlu dikhawatirkan karena bukan menunjukkan perubahan warna matahari secara langsung.
Dilansir, Selasa 8 September 2026, BMKG Wilayah I menyebut keberadaan aerosol, debu, dan asap di atmosfer dapat memengaruhi proses perambatan cahaya matahari.
“Partikel di atmosfer seperti aerosol, debu, maupun asap yang memengaruhi proses perambatan cahaya matahari,” demikian keterangan BMKG Sumut melalui akun Instagram resminya.
Partikel-partikel tersebut menyebabkan cahaya biru lebih banyak dihamburkan sehingga cahaya matahari yang sampai ke mata lebih didominasi warna merah atau jingga.
Efek tersebut semakin terlihat ketika posisi matahari masih rendah, seperti pada pagi atau sore hari.
BMKG Wilayah I menduga fenomena matahari merah yang terlihat di Medan berkaitan dengan keberadaan aerosol di atmosfer.
Berdasarkan pemantauan kondisi atmosfer, cuaca haze atau udara kabur terjadi di Kota Medan dan sekitarnya pada sore hingga malam hari.
“Jadi fenomena matahari tampak merah yang dilihat warga Medan kemarin merupakan efek optik atmosfer,” jelas BMKG.
BMKG menegaskan fenomena tersebut bukan berarti matahari benar-benar berubah warna, melainkan cahaya matahari mengalami proses hamburan dan penyaringan oleh kondisi atmosfer sebelum sampai ke mata manusia.
Dengan demikian, fenomena matahari merah pekat yang terlihat warga Medan merupakan fenomena optik atmosfer yang dapat terjadi ketika kondisi udara mengandung partikel tertentu. HUM/GIT


