JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Mabes Polri menonaktifkan Kapolresta Sleman Kombespol Edy Setyanto Erning Wibowo dari jabatannya menyusul hasil audit terkait penetapan tersangka Hogi Minaya dalam kasus dua terduga jambret tewas, Jumat 30 Januari 2026.
“Polri menonaktifkan sementara Kapolresta Sleman berdasarkan rekomendasi hasil audit dengan tujuan tertentu yang dilaksanakan oleh Inspektorat Pengawasan Daerah Polda Daerah Istimewa Yogyakarta,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjenpol Trunoyudo Wisno Andiko.
Menurutnya, hasil audit menemukan dugaan lemahnya pengawasan pimpinan sehingga proses penyidikan menimbulkan kegaduhan di masyarakat dan berdampak pada menurunnya citra Polri.
Selain itu, hasil audit tersebut telah digelar dan seluruh peserta sepakat merekomendasikan penonaktifan Kapolresta Sleman untuk sementara waktu hingga pemeriksaan lanjutan selesai dilaksanakan.
“Penonaktifan sementara ini dilakukan semata-mata untuk menjamin objektivitas pemeriksaan lanjutan serta memastikan proses penegakan hukum berjalan secara profesional, transparan, dan berkeadilan,” jelas Trunoyudo.
Sementara itu, Trunoyudo menyebutkan serah terima jabatan Kapolresta Sleman direncanakan dipimpin Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat 30 Januari 2026.
Kasus ini bermula dari penetapan tersangka terhadap APH alias Hogi Minaya (43) usai terlibat kecelakaan yang menewaskan dua terduga jambret di Jalan Solo, Maguwoharjo, Sleman, pada April 2025.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu 26 April 2025 pagi, saat istri Hogi, Arsita (39), menjadi korban penjambretan oleh dua pria berboncengan berinisial RDA dan RS.
Hogi yang berada di lokasi kemudian mengejar dan memepet pelaku ke arah trotoar hingga sepeda motor pelaku menabrak tembok dan menyebabkan keduanya meninggal dunia.
Arsita menjelaskan kasus penjambretan yang ditangani Satreskrim Polresta Sleman dihentikan karena pelaku meninggal dunia, sementara proses hukum kecelakaan lalu lintas tetap berjalan.
“Sama pengacara saya sudah diajukan penangguhan penahanan. Kalau sekarang katanya itu tahanan luar karena di kakinya dipasang GPS,” kata Arsita. HUM/GIT


