JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem Al-Dhaheri menyambut gencatan senjata dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat serta mendorong upaya damai melalui jalur diplomasi, Rabu 8 April 2026.
“UAE dan negara sahabat di GCC dan Yordania, kami selalu menyerukan deeskalasi, gencatan senjata, dan diskusi di ruang diplomatis, kami tidak ingin ada eskalasi,” kata Al-Dhaheri kepada wartawan di kediamannya, Kuningan, Jakarta Selatan.
Menurutnya, masa gencatan senjata ini menjadi momentum penting untuk membuka jalan menuju perdamaian dan stabilitas kawasan.
“Saat ini adalah waktu yang baik untuk membicarakan jalan ke depan, berdiskusi soal kedamaian dan stabilitas. Dan kami berharap dalam kurun waktu dua minggu ini, kita bisa mencapai kesepakatan untuk menimbulkan stabilitas, agar kita bisa bekerja untuk mencapai kemakmuran bagi negara kita,” jelasnya.
Selain itu, ia berharap perdamaian dapat segera memulihkan stabilitas ekonomi global, terutama terkait jalur strategis Selat Hormuz.
“Kita harus membangun bersama, bergerak maju bersama, kita harus saling terlibat dengan tenteram dan aman. Kita harus melihat Teluk Hormuz bergerak karena kita tidak ingin melihat kehancuran rantai pasok,” katanya.
Ia menambahkan bahwa konflik telah menimbulkan dampak kemanusiaan dan ekonomi yang luas di berbagai negara.
“Kita sudah melihat korban luka, korban jiwa. Kita sudah lihat ada orang kehilangan pekerjaan, terdampar dan tidak bisa bepergian. Ini yang tidak ingin kita lihat, kita ingin melihat ada resiliensi, teluk yang baik, kita punya makanan, dan banyak komoditas berbeda,” sambungnya. HUM/GIT

