JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Dokter kecantikan Richard Lee resmi ditahan di Rutan Polda Metro Jaya setelah diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan pelanggaran perlindungan konsumen terkait produk dan layanan kecantikan, Jumat 6 Maret 2026.
Penahanan dilakukan setelah Richard Lee menjalani pemeriksaan selama sekitar empat jam oleh penyidik Polda Metro Jaya.
“Terhadap tersangka DRL dilakukan penahanan pada pukul 21.50 WIB di Rutan Polda Metro Jaya,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombespol Budi Hermanto.
Ia menjelaskan Richard Lee diperiksa sejak pukul 13.00 WIB hingga 17.00 WIB dengan total 29 pertanyaan dari penyidik.
“Sebelum melaksanakan penahanan, tersangka dilakukan pengecekan kesehatan oleh Biddokes Polda Metro Jaya meliputi pengecekan tensi, saturasi, dan suhu tubuh dengan hasil normal dan dapat melakukan aktivitas seperti biasa,” ujarnya.
Selain itu, polisi mengungkap salah satu alasan penahanan karena tersangka tidak menghadiri panggilan pemeriksaan tambahan pada 3 Maret 2026 tanpa keterangan jelas.
“Berdasarkan pertimbangan tindakan tersangka DRL yang dinilai menghambat penyidikan, antara lain tersangka tidak hadir pada pemeriksaan tambahan tanggal 3 Maret 2026 tanpa memberikan keterangan yang jelas. Justru pada hari tersebut tersangka diketahui melakukan live pada akun TikTok,” kata Budi.
Alasan lain, Richard Lee juga tercatat beberapa kali mangkir dari kewajiban lapor kepada penyidik tanpa alasan yang jelas.
“Tersangka juga mangkir wajib lapor pada hari Senin, 23 Februari 2026 dan Kamis, 5 Maret 2026 tanpa alasan yang jelas. Atas dasar hal tersebut, terhadap tersangka DRL dilakukan penahanan pada pukul 21.50 di rutan Polda Metro Jaya,” ujarnya.
Sementara itu, Richard Lee sebelumnya juga mengajukan gugatan praperadilan atas penetapannya sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Namun hakim tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Esthar Oktavi menolak permohonan praperadilan tersebut.
“Menolak permohonan praperadilan Pemohon. Membebankan biaya perkara kepada negara yang besarnya nihil,” kata hakim dalam putusannya. HUM/GIT


