JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Lebaran Ketupat sebagai tradisi masyarakat digelar sepekan setelah Idulfitri dan pada 2026 jatuh 28 Maret dengan rangkaian kenduri serta doa bersama, Sabtu 21 Maret 2026.
Lebaran Ketupat merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, setelah Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini juga dikenal sebagai Syawalan.
Pada tahun 2026, Lebaran Ketupat jatuh pada Sabtu, 28 Maret 2026, atau tepat tujuh hari setelah Idulfitri yang diperingati pada 21 Maret 2026.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat membawa ketupat beserta lauk pelengkap seperti sayur dan sambal goreng untuk kemudian didoakan bersama dalam kegiatan kenduri.
Selain itu, tradisi ini mengandung makna kebersamaan dan ungkapan rasa syukur setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Secara filosofis, istilah “kupat” berasal dari bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Hal ini mencerminkan nilai saling memaafkan antar sesama.
Sementara itu, anyaman janur pada ketupat melambangkan kompleksitas kesalahan manusia, sedangkan warna putih di dalamnya mencerminkan kesucian setelah memohon ampun.
Sejarah Lebaran Ketupat berkaitan dengan Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, yang memperkenalkan tradisi ini sebagai sarana dakwah Islam dengan memanfaatkan budaya lokal seperti slametan.
Tradisi tersebut digunakan untuk mengajarkan nilai bersyukur, bersedekah, dan mempererat silaturahmi di tengah masyarakat. HUM/GIT

