PANGKEP, Memoindonesia.co.id – Proses evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, masih berlangsung melalui jalur darat karena cuaca buruk dan medan terjal, Selasa 20 Januari 2025.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dinyatakan hilang kontak saat hendak mendarat di Bandara Hasanuddin pada Sabtu siang, 17 Januari 2025.
Pesawat tersebut ditumpangi 10 orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Selain itu, tim SAR sebelumnya telah menemukan satu jenazah korban pada Minggu, 18 Januari 2025, dan satu korban lainnya ditemukan pada Senin, 19 Januari 2025, dalam kondisi meninggal dunia.
“Telah ditemukan satu korban,” kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii kepada wartawan di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar.
Menurutnya, korban kedua ditemukan sekitar pukul 14.00 Wita di area tebing yang sangat terjal dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
“Nanti mungkin identitas persisnya dari DVI, namun informasi awal korban pertama berjenis kelamin laki-laki dan korban kedua berjenis kelamin perempuan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono menjelaskan mesin pesawat ditemukan pada Minggu, 18 Januari 2025, oleh tim SAR gabungan yang mayoritas terdiri dari personel TNI AD.
“Operasi dilaksanakan di tengah kondisi angin kencang hingga 22 knot, visibilitas terbatas, kabut tebal, dan hujan,” kata Donny dalam keterangan resmi.
Ia menambahkan, pencarian dilakukan dengan bantuan drone, NVG, GPS, sistem komunikasi Starlink, radio taktis, serta perlengkapan mountaineering.
Selain mesin pesawat, tim juga menemukan serpihan penting, Emergency Locator Transmitter, serta satu bagian tubuh korban di sekitar ekor pesawat.
Evakuasi dilakukan secara bertahap melalui jalur darat karena helikopter belum dapat dioperasikan akibat kabut tebal dan medan yang curam.
“Evakuasi tidak bisa dipaksakan jika membahayakan personel, sehingga jalur darat menjadi opsi utama,” ujar Mohammad Syafii.
Tim SAR juga menemukan sejumlah barang pribadi korban berupa dokumen, dompet, buku catatan, serta barang elektronik yang telah diamankan sesuai prosedur.
Penemuan tersebut menjadi petunjuk penting untuk mempersempit area pencarian dan menentukan langkah lanjutan proses evakuasi korban. HUM/GIT


