PEMALANG, Memoindonesia.co.id – Kesibukan bekerja, berusaha hingga menempuh pendidikan kerap membuat masyarakat kesulitan mengurus paspor pada jam pelayanan reguler.
Kondisi tersebut coba dijawab Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Pemalang melalui inovasi Sowan Ratri (Satu Malam Bersama Imigrasi).
Program tersebut menghadirkan layanan paspor pada malam hari sebagai alternatif waktu bagi masyarakat yang tidak leluasa mengakses pelayanan keimigrasian pada siang hari.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Pemalang melalui Kepala Seksi Pelayanan dan Verifikasi Dokumen Perjalanan, Agus Surono, mengatakan Sowan Ratri dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat yang memiliki aktivitas padat pada jam kerja.

“Bagi kami, pelayanan yang baik bukan hanya tentang memenuhi standar pelayanan, tetapi juga bagaimana memahami kondisi masyarakat dan menghadirkan solusi atas kendala yang mereka hadapi,” ujar Agus.
Menurut Agus, fleksibilitas waktu menjadi salah satu aspek penting dalam pelayanan publik. Karena itu, layanan paspor tidak hanya ditempatkan pada jam kerja konvensional, tetapi juga dibuka pada waktu yang dinilai lebih sesuai dengan aktivitas masyarakat.
Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Pemalang memiliki wilayah kerja yang mencakup Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Batang.
Luasnya cakupan wilayah tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menghadirkan layanan yang mudah dijangkau masyarakat.
Melalui Sowan Ratri, masyarakat memiliki pilihan mengurus paspor pada malam hari tanpa harus meninggalkan pekerjaan, usaha maupun aktivitas utama mereka pada siang hari.
Layanan tersebut juga dilaksanakan di pusat-pusat keramaian. Strategi ini sekaligus menjadi upaya Imigrasi Pemalang mendekatkan layanan keimigrasian ke ruang aktivitas masyarakat.
Tak berhenti pada urusan layanan paspor, kehadiran program tersebut turut menciptakan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi. Meningkatnya kunjungan masyarakat selama kegiatan berlangsung berpotensi memberikan dampak positif bagi pelaku usaha dan UMKM di kawasan sekitar.
“Melalui konsep ini, kami ingin menghadirkan pelayanan yang tidak hanya lebih dekat dengan masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi lingkungan sekitar,” katanya.
Sebagai penggagas Sowan Ratri, Agus menegaskan inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya membangun pelayanan publik yang adaptif terhadap perubahan kebutuhan masyarakat.
Program tersebut akan terus dievaluasi dan dikembangkan agar pelaksanaannya semakin efektif serta mampu menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Karena bagi kami, Imigrasi hadir untuk melayani, mendekatkan layanan, dan memberikan kemudahan bagi masyarakat,” pungkas Agus. HUM/CAK


