JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Partai Golkar menyatakan akan mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2029, tetapi belum menentukan calon wakil presiden pendampingnya, Sabtu 10 Oktober 2026.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai keputusan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai peluang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk kembali mendampingi Prabowo pada periode kedua.
“Bagi Golkar di 2029, Prabowo yes, Gibran no. Tentu ini tak lepas dari pernyataan Golkar yang memastikan akan usung Prabowo kembali, sementara untuk cawapres seperti Golkar enggan usung Gibran,” kata Adi kepada wartawan, Sabtu 10 Oktober 2026.
Adi menilai Golkar bersikap realistis dengan kembali mendukung Prabowo. Menurut dia, posisi Prabowo sebagai petahana menjadi salah satu pertimbangan partai tersebut.
“Golkar bersikap realistis dengan dukung Prabowo kembali di 2029. Apa pun judulnya Prabowo petahana yang punya segala instrumen untuk menang mudah,” ujarnya.
Di sisi lain, Adi menyoroti elektabilitas Gibran yang dinilainya belum menonjol serta posisinya yang tidak memiliki partai politik sendiri.
Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi pertimbangan dalam wacana pencalonan kembali Gibran sebagai cawapres.
“Sementara pada saat bersamaan Gibran selain elektabilitasnya tak mentereng plus tak punya partai. Bagi Golkar sepertinya tak rasional usung Gibran lagi,” katanya.
Direktur Eksekutif Trias Politika Agung Baskoro juga menilai koalisi pemerintahan saat ini lebih berfokus menyukseskan pemerintahan Prabowo hingga periode kedua.
Namun, sosok yang akan mendampingi Prabowo sebagai cawapres belum diketahui.
“Secara institusional jelas ya bahwa koalisi pemerintah hari ini memang lebih fokus menyukseskan pemerintahan Presiden Prabowo sampai periode kedua dengan cawapres yang masih kita belum tahu siapa pendampingnya pasca tidak lagi Mas Gibran,” kata Agung.
Agung menyebut Golkar merupakan salah satu partai yang mendukung pemerintahan Prabowo.
Menurut dia, posisi partai tersebut di kabinet tercermin dari keberadaan dua menteri koordinator yang berasal dari Golkar, yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Hilirisasi Bahlil Lahadalia.
“Karena Golkar menjadi loyalis utama yang hari ini mendukung secara optimal pemerintahan. Dan itu terbukti ketika posisi Golkar sekarang bertambah dengan kehadiran dua menko, yakni Menko Perekonomian atas nama Pak Airlangga dan Menko Hilirisasi Pak Bahlil,” ujarnya.
Agung menilai komposisi kabinet tersebut menunjukkan posisi Golkar dalam koalisi pemerintahan Prabowo.
“Itu sebuah bentuk nyata bahwa Golkar lebih dibanding partai koalisi lain, seperti Demokrat yang hanya satu menko, PKB hanya satu Menko, PAN satu Menko tapi dua Wamenko,” katanya.
Menurut Agung, dukungan Golkar terhadap pencalonan Prabowo pada 2029 dapat dipahami dalam konteks posisi partai tersebut di pemerintahan.
Dia juga menilai belum disebutkannya nama cawapres membuka kemungkinan munculnya kandidat selain Gibran.
“Jadi Golkar dan PAN termasuk partai pengusung utama presiden hari ini dan ketika Golkar menyatakan demikian otomatis secara institusional kemungkinan besar wapresnya Pak Prabowo di periode kedua nanti bukan Mas Wakil Presiden Gibran,” katanya.
Agung juga menyoroti hubungan politik antara Golkar dan Prabowo serta kemungkinan adanya pertimbangan lain dalam menentukan pendamping presiden pada periode berikutnya.
“Bagaimana cara personal, ya ini bentuk real dari loyalitas Golkar. Dalam konteks ini Pak Bahlil yang tegak lurus dengan Presiden, kita akan melihat gestur dan ekspresi politik Presiden yang memang dalam tanda kutip lebih memilih untuk mencari alternatif di luar nama Mas Gibran sebagai pendampingnya di Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agung menyebut dinamika politik yang melibatkan Gibran selama menjalankan pemerintahan juga dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pembahasan pasangan Prabowo pada Pilpres 2029.
“Berbagai macam dinamika politik dan kasus-kasus politik yang selama ini dihadapi oleh Mas Gibran,” pungkasnya. HUM/GIT


