JAKARTA, Memoindonesia.co.id – Dokter dari PAPDI menjelaskan bahwa anggapan kebal campak seumur hidup belum tentu benar dan vaksinasi tetap diperlukan terutama pada orang dewasa, Selasa 31 Maret 2026.
Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Dr dr Adityo Susilo, SpPD, K-P.T.I FINASIM mengatakan seseorang yang pernah terkena campak memang bisa memiliki kekebalan, namun perlu dipastikan diagnosis sebelumnya benar.
“Kalau tadi ada pernyataan seperti tadi ‘dulu pernah kena campak, jadi sekarang nggak pernah dan nggak bisa lagi kena campak’ itu bisa jadi fakta. Tapi, ada pertanyaan di situ, yakin yang dulu campak?” kata dr Adityo di Jakarta Pusat.
Menurutnya, perlu dipastikan apakah penyakit yang dialami saat kecil benar-benar campak atau justru penyakit lain yang memiliki gejala serupa.
Selain itu, dr Adityo menekankan adanya fenomena waning immunity atau penurunan daya tahan tubuh seiring bertambahnya usia.
“Ada yang namanya waning immunity, daya tahan tubuh seiring waktu, apalagi pada usia lanjut dia bisa mengalami penuaan. Kalau dia menua, bisa saja respons imunitasnya turun atau mungkin kondisi yang lain, imunitas autoimun mungkin,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tubuh manusia bersifat dinamis sehingga tidak ada jaminan kekebalan 100 persen terhadap suatu penyakit.
“Jadi artinya memang dinamika kompleks dalam tubuh bisa membuat proses yang seharusnya seperti itu, bisa berubah. Makannya pada manusia kami tidak pernah bilang 100 persen pasti. Kita berbicara probability,” katanya.
Sementara itu, Ketua Satgas Vaksinasi PAPDI Dr dr Sukamto Koesnoe, SpPD K-A.I FINASIM menegaskan pentingnya vaksinasi campak bagi orang dewasa.
“Jadi vaksinasi campak untuk dewasa perlu nggak? Sangat perlu, tidak hanya perlu, tapi sangat perlu. Dikatakan, dua dosis itu akan meningkatkan efektivitas, daripada hanya satu dosis saja,” kata dr Sukamto.
Ia juga menyebut beberapa kelompok dewasa yang berisiko tinggi terkena campak, antara lain imunokompromais seperti penderita HIV/AIDS, kanker, pengguna imunosupresan, penderita penyakit kronis, tenaga kesehatan, pelancong ke daerah endemis, serta ibu hamil. HUM/GIT

